Breaking News

Jangan Menganggap Hina Orang Lain

Jangan-Merendahkan-Orang-LainOleh Indra Yudhistira

Inilah Islam- Suatu hari Tuhan berfirman kepada Musa. “Wahai Musa, carilah satu makhluk yang lebih hina dari dirimu untuk kau ajak menghadap kepadaku”. Musa berkata “baik Tuhanku”. Musa pun melaksanakan perintah Tuhannya. Ia berjalan menyusuri setiap tempat untuk menemukan pesanan Tuhannya.

Ketika ia menjumpai kumpulan manusia, beliau mencoba menerka-nerka siapa kira-kira yang paling hina diantara mereka. Karena kebeningan hati  sang Nabi Musa terbenam dalam perenungan, “boleh jadi mereka tampak begitu hina dihadapanku, tapi siapa tau mereka memiliki amalan yang membuat derajat mereka bisa lebih tinggi daripada diriku, aku juga tidak selalu tau dengan hal-hal yang disembunyikan Tuhanku”. Kemudian Musa  berjalan lagi menyusuri tempat demi tempat, ia tampak kesulitan untuk menemukan satu makhluk yang lebih hina darinya. Sampai suatu ketika ia menemuka ada seekor anjing kurap yang pincang dihadapannya.

Musa pun tersenyum, barangkali  makhluk ini bisa aku bawa kepada Tuhanku. Tapi sebelum sempat ia membawa  anjing kurang yang pincang tersebut kepada Tuhan, mata batin sang nabi sontak memberikan memberikan kesadaran.

Musa pun merenung “Boleh jadi dia hanya seekor anjing kurap yang pincang, tapi dia adalah juga Hamba Tuhan, ia memang memiliki berbagai kekurangan, tapi dia tidak mengeluh, dan dia seekor hewan yang tidak dibebani Hisab, sedang aku, masih akan menghadapi peristiwa hisab dihadapan Tuhanku. Aku tak dapat menganggap makhluk ini lebih hina daripada diriku”.

Kemudian Musa menghadap Tuhannya  dengan wajah lesu dan berkata Tuhannya  “Wahai Tuhanku, maafkan aku tidak dapat melaksanakan perintahmu, di seluruh bum ini aku tak dapat menemukan makhlukmu yang lebih hina dari pada diriku”. Kemudia tiba-tiba Musa mendengar  firman Tuhan “Wahai Musa, seandainya saja sempat satu makhluk saja yang kau anggap lebih hina dari pada dirimu, maka aku akan mencabut kenabianmu, perintahku adalah untuk menguji kesiapan batinmu”.

Cerita ini adalah kisah yang kurang masyhur tentang kepribadian Nabi Musa.as. cerita Nabi Musa yang beredar di dalam masyarakat yang kebanyakan  hanya bercerita tentang kisah gagahnya perlawanan Musa terhadap fir’aun, sifat tegasnya hukum-hukum Taurat dan Mukjizat-Mukjizat. Tapi jarang sekali ada sebuah kisah yang menggambarkan sisi terdalam dari kearifan para Nabi padahal Agama para Nabi adalah jalan untuk melejitkan kejernihan batin dan kekuatan ruh.

Kalau kita cermati, sesungguhnya para Nabi berdialog dengan kejernihan batinnya untuk bisa menyikapi wahyu-wahyu yang mereka dapatkan dari alam ilahi yang mutlak. Kejernihan batin adalah syarat utama untuk dapat berinteraksi dengan alam yang lebih tinggi. Tuhan hanya dapat didekati dengan hati yang kosong dari perkara-perkara buruk. Benda ini haruslah sangat suci dari kebencian, kemarahan, dan dorongan untuk menghancurkan. Sikap yang melenceng dari kejernihan batin ini adalah tanda-tanda pembangkangan terhadap Tuhan. Inilah kekafiran sejati yang banyak dilupakan oleh orang-orang yang mengklaim diri beragama.

Keimanan tidak ditandai dengan sikap yang keras terhadap orang lain dalam menjalankan kewajiban-kewajiban religius. keimanan ditandai dengan kesungguhan menjalankan perintah Tuhan adalah akhlak yang terpuji. Dalam Al Qur’an dikatakan bahwa Allah mengutus Rosululloh SAW sebagai rahmat bagi alam semesta. Rahmat tidak pernah bisa turun secara bersamaan dengan kemarahan dan angkara murka. Kalimat ini begitu sederhana namun memiliki makna dan kandungan yang mendalam.

*penulis adalah juru ketik di kampus STFI Sadra

 

Check Also

Menyelami Islam Cinta Ibnu Arabi

Narasi terpenting dari pemikiran Ibn ‘Arabi adalah menghadirkan pesan cinta dalam memahami Islam (Haidar Bagir) …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *