Breaking News

Membangun Karakter Umat Yang Konstruktif Di zaman Gadget

Masalah Rohingya masih ramai, namun perlu atau wajib melihatnya secara cermat serta detail permasalahan ini agar tidak blunder menjadi masalah besar yang lain lagi, seperti membenturkan bahwa ini masalah agama, tapi sesungguhnya ini masalah kemanusiaan, maka sebagai umat Islam harus jeli dan pastinya cerdas, tidak terbawa arus yang provokatif. dan tentu saja harus bersatu menolong mereka yang membutuhkan, saat ini etnis Rohingya sangat membutuhkan pertolongan, sangat darurat. Selain makanan dan kebutuhan pokok, juga kebutuhan keilmuan dalam meneguhkan jiwa mereka yang sedang berguncang hebat saat ini, mereka butuh suplai penyemangat agar melihat hidup ini bukan hanya mencari tempat nyaman di dunia. Setidaknya, dunia Islam diberi pesan-pesan yang keras, yaitu apakah kalian umat yang mengaku Islam ini benar-bemar berTuhan?, apa yang bisa kalian lakukan untuk menyelesaikan masalah ini tanpa menimbulkam masalah lain?, Demo borobudur?, apakah ini akan menyelesaikan masalah?.

Bertempat di Oxford Course Tebet Indonesia, RKAB (Rumah Kajian Al-Qur’an Al Barru) yang diasuh oleh Ustad Muhammad Rusli Malik mengadakan Kajian Keislaman Keindonesian, yang rutin diadakan dengan para narasumber yang berbeda. Kali ini RKAB berkesempatan menghadirkan Dr. Mahmud Syaltout, lulusan Sourborn Perancis dan saat ini menjabat Wasekjen Gerakan Pemuda (GP). Sebelumnya yang diundang adalah Dr. Nuruzzaman Al-Habib (Ketua bidang hubungan dan kajian strategis PP GP Ansor), namun berhalangan.

Menurut Mahmoud Syaltout, kasus Rohingya harus dicari akar masalahnya, dan kekuatan siapa saja yang sedang bermain, dan apa yang sebenarnya motif dari tragedi ini?. Meski demikian kemanusiaan tetap harus mendapatkan perhatian yang serius.”Janganlah bersumbu pendek melihat kejadian ini” santer terdengar kalimat ini yang sudah semakin populer sebagai bentuk sindirian yang halus.

Dengan berbekal teknologi, Mahmud Syaltut memperkenalkan aplikasi yang ada di gadgetnya, bahwa sekarang sangat bisa mendapatkan data dan memetakan suatu Isu. Khusus kasus Rohingya, secara detail beliau menggambarkan mapping wilayah Rakhine state dan berbagai elemen-elemen yang merangkulnya, dan ini butuh kelas tersendiri memaksimalkan pemakaian aplikasi itu.

Kalau tidak salah, beliau menyebut Game theory, atau cara menganalisa dan menskemakan semua permasalahan yang terkait, artinya opsi-opsi yang hangat dan menjadi pilihan, semuanya didata lalu melihat seperti apa dampaknya kalau point-point itu yang diambil. Misalnya, jika mendemo kedutaan Myanmar atau melakukan pengusiran, maka dampak apa yang terjadi ke depannya?, Dan pastinya cara-cara seperti ini sejalan dengan semangat AlQur’an. Itulah bagaimana cara mengkonstruksi umat agar Indonesia ini menjadi negara maju, karakter bangsa perlu ditumbuhkembangkan dengan nalar yang sehat, menerjang semua penghambat kemajuan menuju Indonesia hebat.

Tak ketinggalan juga disinggung bahwa konflik-konflik besar terjadi seperti di timur tengah, baik Suriah, Lybia, Irak dan Afganistan serta Yaman adalah masalah energi. Di timur tengah, cadangan minyak masih tersedia melimpah, karena itulah, negara-negara yang agendanya sangat rakus akan selalu membuat onar di dalam negeri yang akan ¬†dikuasai. Artinya, dimana ada cadangan kekayaan alam melimpah, disitulah akan dibidik. Bagaimana dengan Indonesia?, mmmhh…. lagi-lagi kita sebagai umat jangan mau cepat terprovokasi, selalu ada Qur’an yang menjadi petunjuk agar tidak tersesat oleh tipu daya musuh-musuh Islam yang sangat mencintai dunia ini. Qur’an petunjuk secara universal, dan menerjemahkannya bisa berkecimpung dalam dunia Online misalnya, serta ilmu-ilmu yang sangat dibutuhkan oleh umat Islam, teknologi, ekonomi, perminyakan, serta politik adalah beberapa ilmu-ilmu yang menunjang umat menjadi handal, namun bagaimana pun masih ada oknum-oknum yang menyalahgunakan ilmu-ilmu itu untuk memprovokasi, dan berharap segelintir materi.

NU yang disebut-sebut sebagai garda terdepan mengawal NKRI telah melakukan upaya-upaya menjaga keutuhan bangsa ini, salah satunya adalah melakukan pelatihan penggunaan teknologi internet dalam menangkal paham-paham radikalisme. Kita tahu paham-paham ini yang telah merongrong Islam dari dalam, dan mereka yang radikal nampaknya telah bermilitan dan berdedemit di dunia maya dengan masif, sistematik dan terstruktur, berupaya melempar wacana yang akan menggerus pikiran kaum muda. Tak jarang mereka digunakan untuk kepentingan sesaat, misalnya dalam kontes pemilihan Kepala daerah, para dedemik dari kelompok intoleran radikal ini  melakukan pembusukan nama tokoh-tokoh yang dihormati. Seharusnya umat bisa melihat bahwa cara-cara seperti ini sudah tidak islami.

Dr. Mahmoud Syaltout juga menyebutkan bahwa ada kader NU lulusan terbaik ilmu teknologi dan juara olimpiade fisika (Maaf lupa namanya yang disebutkan). Dan sudah mengembangkan aplikasi-aplikasi yang bisa medeteksi volume otak sebagai identifikasi seseorang, dan ternyata ini bisa dikembangkan menjadi senjata yang paling ampuh, bisa membidik seseorang berdasarkan otak yang sebelumnya discreening dari gambar 2D dan dikonversi menjadi 3D, lalu peluru bisa dirancang mengikuti si pemilik volume otak itu, dan boom. Karena setiap manusia memiliki volume otak yang berbeda-beda. MasyaAllah…

Disamping itu Tim Cyber Nu juga mampu mendeteksi siapa saja pemilik akun-akun palsu yang telah melakukan provokasi-provokasi di dunia maya, atau melakukan ujaran kebencian, SARA, dan statemen-statemen busuk, serta memainkan isu-isu untuk kepentingan politik busuk. Dari informasi yang telah didapatkan bahwa, rata-rata yang melakukan ujaran kebencian serta SARA di socialmedia adalah orang-orang yang mengalami masalah pribadi, seperti masalah pekerjaan, hubungan keluarga dan bahkan karena terlalu lama menjomblo dan kemauan menikah belum juga tercapai. Tentu saja orang-orang seperti ini salah jika melampiaskannya dengan menjadi tim cyber dari politisi busuk. Mungkin ke depan, pembangunan karakter bangsa yang kontruktif harus benar-benar melibatkan sepenuhnya jiwa(akal sehat), dalam hal ini adalah cara berpikir yang benar agar setiap masalah pribadi bisa tidak menjadi blunder, atau tidak mudah baperan yang menjerumuskannya ke stress berat lalu terjun ke kelompok para pengkhianat bangsa.

Ketika Banser NU telah menangkap para pemilik akun-akun tuyul itu, tidak mempersekusinya, melainkan bicara dari hati ke hati dan mencari akar masalahnya, dan sebagai umat peduli, NU pun memberikan bantuan fisik, misalnya yang galau karena tidak punya duit membayar kontrakan rumah, Banser NU membantunya. Termasuk juga orang yang lama ditinggal oleh pasangannya pun, Banser NU bekerja maksimal menemukan dimana keberdaan pasangannya. NU yang tak terstruktur ini tetap mampu memberikan sumbangsih pada bangsa dan negara, benar-benar swadaya umat, dari umat untuk umat.

Masih ingat kasus penghinaan Kiai Haji Mustofa Bisri?, Kiai tetap memberikan sikap santun menyikapi hal ini. dan inilah contoh yang baik. Jadi wajar kalau Warga NU bersikap seperti gurunya yang ngademin.

Check Also

Menikahlah Agar Kontinuitas Amal-amal Baik Menjelma Di Alam Berikutnya [Bagian 1]

Berikut ini transkrip dari ceramah Ust. M. Ruli Malik pada acara tahlillan hari ke-7 atau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *