Breaking News

Kisah Ibnu Sina dan Muridnya Bahmaniyar

Ilustrasi Sosok Ibnu Sina
Ilustrasi Sosok Ibnu Sina

Bahmaniyar adalah salah satu murid terdekat Ibn Sina. Sejak kecil hingga dewasa senantiasa dalam arahan Ibn Sina. Bahmaniyar sangat memuji gurunya yang hampir menguasai seluruh bidang pengetahuan khususnya filsafat. Bahmaniyar pun sangat terkesan dengan ajaran-ajaran filsafatnya.

Singkat cerita, pernah suatu ketika Bahmaniyar berkata pada gurunya; “Guru… Aku lihat posisimu sederajat dengan  Rasulullah saw. Engkau menguasai berbagai bidang pengetahuan apalagi engkau piawai dalam filsafat. Lihat saja, tak ada filsafat dalam Qur’an dan juga hadits-hadits Rasulullah saw’. Mendengar perkataan muridnya, Ibn Sina hanya tersenyum dan tidak menanggapi perkataannya. Ibnu Sina menunggu momen yang tepat untuk menanggapinya.

Disaat-saat akhir kehidupannya, Ibnu Sina sering sakit-sakitan dan kemudian memutuskan untuk kembali ke Hamadan. Hamadan adalah salah satu kota di Iran yang cukup dingin dikarenakan kota tersebut dikellilingi dengan pegunungan, apalagi disaat salju tiba. Suatu malam, Ibnu Sina terserang sakit dan membuat dirinya sulit bergerak apalagi untuk keluar rumah, karena pada malam itu cuaca sangat dingin dikarekan salju lebat sedang turun.

Kebetulan, dirumah tak ada air untuk diminum. Ibn Sina kemudian meminta tolong pada muridnya Bahmaniyar untuk mencari air minum. Jarak ke tempat penampungan air minum dari rumah Ibnu Sina lumayan jauh. Mendengar perintah gurunya, Bahmaniyar berpikir keras untuk memenuhi perintah gurunya. Untuk menepis perintah gurunya, Bahmaniyar berkelit dengan alasan kesehatan yang akan membahayakan dirinya jika keluar rumah dengan cuaca yang sangat dingin.

Tak lama kemudian azan subuh pun terdengar. Setelah kalimat asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, Ibn Sina mengambil momen ini untuk menanggapi perkataan muridnya tentang kesamaan derajat dirinya dengan Rasulullah saw. Ibnu Sina berkata pada muridnya; “coba Anda pikirkan dengan baik muazin itu, dia keluar dari rumahnya menuju Mesjid dan naik ke menara Masjid untuk melantunkan azan subuh. Muazin itu tak pernah melihat wajah Rasulullah, tak pernah mendengar suara Rasulullah, dan tak pernah mendapatkan ajaran filsafat seperti yang engkau katakan, dan ketahuilah, Rasulullah saw hidup seribu tahun silam,  tapi muazzin itu bersedia menembus dingin dan salju yang menurut dirimu akan membahayakan dirinya. Sedangkan aku hanya menyuruhmu meminta segelas air minum dan engkau pun tak sanggup. Sungguh, Rasulullah saw adalah manusia suci yang tak ada bandingannya dengan siapapun dan Jangan pernah engkau bandingkan derajat Rasulullah saw dengan siapapun.

Baca Juga:
1. Menyelami Islam Cinta Ibnu Arabi
2. Doa Menembus Alam Realitas Material
3. Kisah Luar Biasa Wais al Qarni

Check Also

Darimana Asal Tasawuf?

Oleh : Dr. Haidar Bagir* “Saya harus mengakui bahwa Al-Qur’an mengandung benih-benih nyata tentang mistisisme …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *