Breaking News

LONGMARCH CINTA

Oleh  : Abu Fajri

Melihat demo jutaan orang hingga menjatuhkan pemerintah, sudah biasa. Menonton longmars yang diikuti ribuan orang juga sudah sering. Menyaksikan maraton dan triatlon dengan peserta dari seluruh penjuru dunia, pun sudah jamak terberitakan. Pergerakan enam jutaan jamaah haji sejauh beberapa kilometer dari Masy’aril Haram lalu bersimpul di Jamarat, Mina, saban tahun terjadi. Tapi berada di tengah-tengah puluhan juta manusia yang berjalan kaki di bawah terik matahari Irak sepanjang kurang lebih 80 km (baca: delapan puluh kilometer) dengan tingkat kepadatan yang tinggi dan tak putus-putusnya selama satu pekan, ini adalah pemandangan yang benar-benar luar biasa. Orang yang tidak mengalami langsung akan susah memercayainya.

Manusia laksana butir-butir air yang mengalir sepanjang mata memandang seakan menandingi Sungai Eufrat yang membelah negeri 1001 malam itu. Mereka memulai perjalanannya dari Pusara Amirul Mukminin Sayyidina Ali bin Abi Thalib di Najaf. Setelah menziarahi keluarga, sahabat utama Nabi, dan Khulafaur Rasyidin yang ke-4 itu, mereka kemudian bergerak sejauh 15 km, untuk mengambil jalan lurus menuju Karbala. Di tempat itu perhitungan dimulai dari tiang listrik nomor 1. Ada hampir 1500 total tiang listrik yang akan mereka tempuh, dengan jarak antar tiang adalah 50 meter.

Inilah perjalanan Arbain (secara harafiah artinya 40–empat puluh). Yaitu perjalanan dalam rangka memperingati empatpuluh hari terbunuhnya Alhusaein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi yang kedua dari Fathimah Zahra. Bersama kakaknya, Alhsan, Alhusaein kecil sering diceritakan sebagai cucu yang teramat sangat beliau cintai. Nabi sering memangku dan menciumi keduanya, termasuk ketika Sang Nabi menerima tamu-tamu kenegaraan. Keduanya juga sering menjadikan punggung kakeknya itu sebagai tunggangan kuda-kudaan, termasuk ketika Nabi Terakhir itu sedang sembahyang.

Tak pernah sekalipun Nabi membuat keduanya sakit hati. Karena Nabi pernah menyatakan bahwa dirinya adalah bagian dari keduanya dan keduanya adalah bagian dari dirinya; siapa saja yang membahagiakan keduanya maka sama saja membahagiakan Nabi Sendiri. Begitu juga sebaliknya, siapa saja yang menyakiti keduanya maka sama saja menyakiti diri Nabi. Nabi juga pernah bersabda bahwa Alhasan dan Alhusain adalah dua penghulu pemuda surga.

Tetapi pada pertengahan tahun 60 Hijrah, Alhusein mendapat tekanan dan intimidasi serius dari Penguasa baru Dinasti Umayyah. Yazid bin Mu’awiyah yang baru dipilih oleh ayahnya, Mu’awiyah bin Abi Sofyan–sesaat sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir–memaksa Alhusein berbaiat (untuk mengakui kepemimpinannya terhadap umat Islam). Alhusein menolak dan meninggalkan Madinah menuju ke Mekah. Kemudian pada bulan Zulhijjah, cucu Siti Khadijah Alkubra itu, bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya yang kebanyakan anak-anak, wanita dan orang tua, meninggalkan Mekah dan bertolak ke Kufah.

Di awal bulan Muharram tahun 61 Hijrah, di Karbala, sekitar 80 km sebelum Kota Kufah, rombongan kecil Alhusein dihadang dan dikepung oleh ribuan pasukan tentara bersenjata lengkap bentukan Gubernur Kufah, Ubaidillah ibn Ziyad. Setelah kehabisan perbekalan makanan dan minuman, serta kerabat dan sahabat-sahabatnya tumbang satu persatu akibat sabetan pedang, tancapan panah dan tusukan tombak, puncak penumpahan darah Alhusein akhirnya tiba. Pada tanggal 10 Muharram, Alhusein dihujani ratusan anak panah, puluhan sabetan pedang dan tusukan tombak. Setelah tersungkur tak berdaya, kepalanya dipenggal lalu diarak menuju Kufah dan Damaskus. Ucapan terakhir yang keluar dari mulut Alhusain: Hal min naashirin yanshuruniy (masih adakah penolong yang mau menolongku–dalam menegakkan Agama Kakekku)?

Tanggal 20 Safar adalah persis 40 hari (Arbain) paska kejadian pilu itu. Semangat cinta Alhusein itulah yang mendatangkan puluhan juta manusia tumpah ruah ke Karbala sana. Rasa empati terhadap Keluarga Nabilah yang membuat mereka bisa berjalan kaki sejauh itu dengan menahan dinginnya malam dan panasnya mentari siang. Tubuh-tubuh mereka berlumur debu. Rambut-rambut mereka kusam. Kulit-kulit mereka kering. Bibir-bibir mereka pecah-pecah. Kaki-kaki mereka melepuh. Tujuan mereka hanya satu: Menjadi penolong Alhusain.

Orang-orang Irak sendiri bahkan banyak yang berjalan kaki sejak dari kota-kota dan daerah-daerah tempat tinggal mereka yang jaraknya bisa ratusan kilometer. Sehingga dari arah manapun kita datang, pemandangan rombongan pejalan kaki dengan gampang kita temui. Dan di sisi jalan-jalan itu, penduduk setempat membuat posko-posko yang menyediakan toilet, tempat istirahat, makan, dan minum secara gratis.

Begitu juga di sepanjang jalan dari Najaf ke Karbala, sambung-menyambung, tak putus-putus, tersedia kursi-kursi untuk istirahat, kedai-kedai yang menyediakan teh dan kopi panas, bubur, roti arab, kurma, air minum mineral, berbagai macam jus buah, dan aneka makanan lainnya. Semuanya dibagikan secara cuma-cuma. Bahkan ada kesan mereka agak kecewa jika suguhannya tidak diterima.

Anda ingin istirahat lebih lama, tiduran atau menginap? Jangan kuatir. Di kedua tepian jalan tersedia tempat-tempat menginap (maukib), yang dilengkapi dengan kasur dan selimut tebal. Bahkan rumah-rumah penduduk yang agak jauh dari jalanan pun banyak yang diperuntukkan sebagai tempat bermalam dan mengaso bagi pejalan kaki tersebut, yang tak hanya menyiapkan perlengkapan tidur dan kebutuhan makan minum, tapi juga siap menyucikan pakaian-pakaian kotor para tamunya. Mereka, para pemilik rumah yang jauh dari jalanan itu, sengaja menunggu di tepi jalan untuk mengajak rombongan-rombongan pejalan kaki untuk singgah di rumahnya. Dan Anda tak perlu bertanya berapa biaya yang harus dikeluarkan. Karena semuanya dipersembahkan dengan ikhlas kepada tetamu Sayyidina Husain ra. Mereka sama sekali tak minta dibayar atau diupah.

Pertanyaannya ialah, bagaimana semua ini bisa terjadi? Berjuta pejalan kaki datang dari berbagai penjuru dunia dengan biaya masing-masing; tak dibiayai oleh negara atau lembaga manapun. Pula penduduk setempat, memberi makan-minum dan menyiapkan berbagai kebutuhan lainnya kepada jutaan orang, juga tanpa mau menerima bayaran sepeser pun. Semua berjalan dengan tertib tanpa huruhara, padahal tak ada petugas yang mengaturnya.

Agaknya jawabannya cuma satu: CINTA. Ini adalah fakta bahwasanya agama hanya akan memperlihatkan wajah kemanusiaannya yang sejati manakala berhasil ditransformasikan dari sekedar AJARAN menjadi CINTA.

Saat agama berhenti pada wilayah ajaran belaka, maka yang muncul adalah persepsi subjektif terhadap teks-teks ajaran itu, yang kemudian melahirkan banyak kelompok. Lalu masing-masing kelompok merasa bangga dengan dirinya seraya menista dan menegasi kelompok lain. Inilah yang memicu munculnya ketegangan sosial, bahkan perang atas nama agama.

Tetapi ketika agama berhasil bertransformasi menjadi CINTA, maka yang muncul adalah kasih sayang. Inilah mungkin makna dari Islam atau Rasul sebagai rahmatan lil ‘alamin.***

Check Also

Ideologi Horor Menjangkit Karena Arogansi Beragama

Biar tinta sejarah yang bercerita bahwa orang – orang seperti ini bahkan sudah ada di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *