Breaking News

Mengutuk Aksi Kekerasan Demi Memanusiakan Manusia

Sudah banyak terjadi peristiwa yang bisa dibilang menjijikkan sepanjang sejarah manusia, dan itu terkait dengan pelanggaran hak-hak hidup kemanusiaan. Sebelum dan sesudah diutusnya Nabi Muhammad SAW, catatan sejarah telah mempertontonkan bagaimana buasnya manusia menindas saudaranya sendiri. Mungkin agak sulit dan berat menyebut para penindas itu dengan manusia, cuma hanya karena kebetulan saja mereka tercipta dengan tampilan manusia, kalau mau jujur, orang yang telah melakukan itu bahkan lebih kejam dari hewan-hewan melata.

Hewan-hewan saling menjegal dan memangsa karena dipicu oleh urusan makanan/materi, karena memang keberadaan dan kesempurnaan mereka hanya pada batas itu, sementara manusia tercipta dengan seperangkat akal seharusnya tidak lagi seperti hewan-hewan itu, yang menindas demi perut kenyang.

Ketika penjajahan masuk ke Indonesia apa yang memicunya?, atau sebelum datangnya para kompeni penjajah itu apa yang memicu para “borju-borju” menindas rakyat jelata dan memerasnya serta menekan mereka agar tetap tak terpelajar?, meski telah banyak pejuang pembela rakyat kecil yang telah gugur, perlawan pun tetap bergema, karena secara fitrah kemanusiaan, manusia bukan penindas dan bukan untuk ditindas. Kehadiran kekerasan terhadap kemanusiaan selalu menjadi momok yang menjijikkan sepanjang sejarah, siapa pun pelakunya sejatinya melawan kemanusiaannya sendiri.

Etnis Rohingya, telah menyita banyak perhatian publik, informasi pun begitu cepat menyebar, tak terbendung lagi foto-foto yang memilukan masih bersilewerang, tak terkecuali foto-foto lama yang digoreng-goreng namun makin hangus, sebenarnya bukan hanya etnis Rohingya di Myanmar, sebelumnya ada Suriah, Afganistan, dan Yaman serta beberapa daerah yang entah kenapa isunya meredam.

Konflik Timur Tengah entah apakah sekarang sudah benar-benar reda atau telah menyisakan jejak-jejak kehancuran, atau mungkin giat membangun kembali, dulunya ternyata sudah teranalisa, bahwa bukan konflik agama, namun karena perebutan suplai energi. Jadi ada kekhawatiran suatu negara atau kelompok akan berkurangnya cadangan energi dunia sehingga mau melakukan tindakan melanggar nilai-nilai kemanusiaan. Siapa yang tidak kenal ISIS, kaum yang paling menjijikkan dan bawa-bawa nama agama?, mereka kelompok yang melalui tangan-tangannya, para pencinta dunia dengan korporasinya ingin menguasai cadangan energi atau minyak di Timur Tengah. Apakah mereka telah berhasil?, memanfaatkan sumber energi bumi dengan cara-cara yang tidak patut akan berdampak negatif, alam semesta mungkin saja mengutuknya, bisa saja para jenderal-jenderal rakus waktu itu mengalami sakit jiwa, dan ini akan membahayakan dirinya dan orang lain.

Maka tentu saja, agar penyakit itu tidak melebar dan menular, perlu adanya perlawanan, dan minimal rakyat kecil melawannya dengan doa-doa agar kejahatannya itu terhenti dengan segera.

Selain rakyat kecil, bumi masih bisa tegak berdiri jika masih ada orang-orang sholeh yang peduli dengan kemanusiaan, dengan kekuatan politiknya dan kekuatan ekonominya bisa digunakan untuk melawan segala tindakan kesewenang-wenangan suatu negara. Orang-orang sholeh ini sudah mumpuni, daya nalarnya sudah melejit sehingga ia tahu kapan mengeluarkan fatwa dan kapan harus diam. Ada syarat dan kondisi untuk bisa menjadi orang-orang yang benar-benar sholeh dan memperbaiki bumi ini, minimal mereka telah berhasil melawan egoisme dalam dirinya, telah menundukkan sifat subjektifitasnya ke titik paling nol. Orang sholeh melihat permasalah dengan se-objektif mungkin. Maka tentu saja kita bisa lihat dengan cermat, bagaimana beberapa “Penguasa” disuatu negera telah bertindak dengan sistem yang telah dibuat dan dijalankannya yang tidak berpihak kepada rakyat, mungkin kalau di zaman Nabi Musa ada Fir’aun dengan sangat kasar dan tampil tak malu-malu menjajah kemanusiaan, Fir’aun dihantui oleh bayang-bayang kekuasaan, ia sulit mencerna dirinya sebagai manusia, sehingga dengan akal gilanya ia pun melakukan penolakan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Dan Fir’aun pun telah menjadi lembaran sejarah, lalu apakah sifat-sifat Fir’aun ini sudah hilang?, mungkin ia telah berubah bentuk namun tetap sama, sama-sama menjadikan  materi atau kekuasaan dan dunia ini sebagai tolak ukur segala-galanya. Kemanusiaan bukan lagi amanah dari Tuhan, tetapi hanya penghalang baginya dalam mencapai rendahnya nilai materi. Cadangan energi yang telah dikuras itu dengan cara menodai nilai-nilai kemanusiaan, tidak akan bisa membuat para penguasa dan korporasinya hidup kekal dan tenang setenang-tenangnya. Sungguh, tak bisa mereka hidup kekal dengan cara mengusir orang-orang yang tak berdaya dari suatu kampung.

Kembali tadi dengan orang-orang sholeh, apakah orang-orang yang sholeh ini benar-benar ada?, bukankah mereka yang telah meminta donasi dengan isu Rohingya itu adalah orang-orang Sholeh?, bukankah mereka yang terus menekan pemerintah agar turun tangan adalah orang-orang sholeh?, mmhh belum tentu, mungkin kita yang jauh ini belum bisa melihatnya secara detail, mungkin saja juga isu Rohingya dijadikan sebagai agenda politik dalam negeri, apalagi dengan memaksakan bahwa Rohingya adalah konflik agama. Ini bisa dilihat secara seksama, mana yang tulus dan mana yang punya agenda dengan memanfaatkan kesusahan orang-orang etnis Rohingya.

Tapi berbeda dengan seseorang yang jauh di sana dan telah mengirimkan utusannya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di sana?, dengan teliti ia meminta kepada utusan kepercayaannya memantau, dan barulah mengeluarkan pernyataan. Ayatullah Ali Khamenei, pemimpin Tertinggi Iran salah seorang yang sangat keras terhadap aksi krisis kemanusiaan, dengan data-data kepercayaannya, ia sangat mengutuk kekerasan yang sudah terjadi di Myanmar, karena itulah beliau mengeluarkan sindiran yang sangat keras, seperti dilansir oleh situs Republika Online berikut : http://m.republika.co.id/berita/internasional/global/17/09/13/ow7jfs377-ayatollah-ali-khamenei-suu-kyi-telah-mati

Beliau menyindir matinya peraih hadiah nobel Aung San Suu Kyi, mungkin orangnya masih hidup, tapi apalah arti hadiah nobel yang telah didapatkannya, dan mungkin saja hadiah nobel itu hanyalah slogan yang buta, slogan kapitalis untuk mempengaruhi opini, atau embel-embel yang melancarkan agenda-agenda busuk dari orang-orang yang mencintai dunia ini.

“Sebuah pemerintahan yang kejam, di atasnya duduk wanita kejam yang dianugerahi hadiah Nobel Perdamaian. Mereka membunuh orang-orang yang tidak bersalah, membakar mereka, menghancurkan rumah mereka, dan mengusir mereka namun tidak ada reaksi nyata yang terlihat,” kata Ayatullah Ali Khamenei dalam sebuah pidato di Teheran, seperti dilansir Channel News Asia, Selasa tanggal 12 September.

Ayatullah menegaskan bahwa penerima nobel itu telah mati, “Ya, mereka mengecamnya, mengeluarkan pernyataan, tapi apa gunanya? Mereka harus bertindak. Ini menandai kematian penerima Hadiah Nobel Perdamaian,” ujar Khamenei.

Dan terakhir, beliau menekankan ini bukan konflik agama, Menurut Ayatullah Ali Khamenei, masalah di Myanmar bukan pertentangan umat Buddha dan Muslim. Mungkin beberapa orang fanatik agama berperan, tapi pemerintah melakukan persekusi ini. Jadi ini adalah isu politik. “Solusinya adalah agar pemerintah negara-negara Muslim bertindak. Kami tidak meminta mereka harus mengirim pasukan ke sana, tapi melakukan  tekanan politik dan ekonomi kepada Myanmar,” ujar Khamenei.

Check Also

Izinkan Saya Menyapa Saudara Nonmuslim

Ada politik di setiap langkah kita, harusnya itu disadari. Supaya tak kagetan menyikapi politik di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *