Breaking News

Menikahlah Agar Kontinuitas Amal-amal Baik Menjelma Di Alam Berikutnya [Bagian 2]

Sambungan dari Bagian 1 

Nah bapak ibu jemaah sekalian yang sangat berbahagia, maka pada saat kita tadi membaca Yasin ataukah ayat-ayat, ataukah tahlilan-tahlilan tadi, semuanya menjelma di alam barzah sana, untuk siapa?, sebagaimana tadi Allah SWT, tergantung siapa yang “yuriduh, aradah” siapa yang diinginkannya. Oleh sebab itulah apa yang kita baca tadi juga terjelma untuk siapa?, untuk yang kita niatkan. Maka pertama kali tadinya ketika kita akan membaca yasin atau tahlilan, ustad kita meminta kita untuk meniatkan, untuk Almarhumah yang telah meninggalkan kita tujuh hari yang lalu, yaitu Almarhumah Ibu Konil Binti Kona. Jadi bapak ibu jemaah sekalian yang sangat berbahagia, maka seluruh yang kita baca tadi akan menjelma untuknya nanti di alam sana, dan karena ini adalah dari kitab Allah yang muncul adalah keindahan, tidak mungkin keburukan, karena Allah mengatakan “Maa azabakah min khazanahtin faminallah, wa maa azabakah min syaiatin faminafsyi  apa saja yang terjadi menimpa kamu yang baik pasti dari Allah, dan apa saja yang menimpa kamu dengan keburukan adalah dari dirimu sendiri. Nah, karena yang kita baca tadi adalah kitab Allah SWT maka pasti baik, maka ini akan terkirim buat almarhumah disana.

Jadi inilah yang menyebabkan kita berkumpul di tempat ini, inilah yang menyebabkan kita membaca ini, maka kalau mereka yang tidak membaca tidak apa-apa juga tapi tidak dapat apa-apa disana bapak ibu jemaah sekalian yang sangat berbahagia, sedangkan apabila seseorang itu meninggal dunia maka di sana tidak ada lagi ikhtiar namanya, di alam barzah terhenti ikhtiar, karena terhenti ikhtiar tidak bisa lagi mencetak pahala dan amal-amal, lalu siapa yang mencetakkan pahala dan amal-amal?, adalah orang-orang yang ada di belakangnya, siapa orang-orang yang melibatkan di belakangnya?, anak-anaknya. Itulah sebabnya di dalam Islam kita pernikahan itu wajib adanya, dan pernikahan itu wajib beda jenis kelamin. Kenapa?, karena hanya orang yang menikah beda jenis kelamin-lah yang bisa melahirkan anak-anak dan keturunannya.

Perhatikan jemaah sekalian yang berbahagia. Kenapa? Karena begitu kita meninggal dunia siapa yang meneruskan prakarsa itu?, anak-anak keturunan kita, bukan yang lain bapak ibu jemaah sekalian yang sangat berbahagia. Maka itu sebabnya, Allah SWT telah mengajarkan kita doa Nabi Sulaiman, dikatakan “Rabbi auwsigni an asykura ni’mataka llatiy an’amta alayyah wa ala walidayya wa an a’mala syalihan tardah wa adkhilni birahmatika fi ibahdika syalihin” nah perhatikan jemaah, apa yang kita minta disitu pada ayat itu?, disitu dikatakan apabila orang itu telah mencapai usia 40 tahun, ataukah orang tuanya sudah meninggal dunia, hendaknya ia berkata “Rabbi auwsigni an asykura ni’mataka llatiy an’amta alayyah” Ya Allah karuniakanlah kepada saya kenikmatan yang luar biasa dari sisi-Mu sebagaimana Engkau berikan kenikmatan kepada kedua orang tua saya, karunikanlah juga kepada anak-anak saya supaya bisa melakukan amal-amal sholeh, dan juga saya minta kepadaMu Tuhan, adkhilni, masukanlah aku, birahmatika dengan rahmatMu. Siapa yang dimaskud dengan rahmatmu disini?, dengan Nabi Muhammad, dengan syafaat Nabi Muhammad, Loh dari mana kita tahu?, karena Allah mengatakan “Wa maa arsalnaka Illa rahmatan Lil Alamin tiadalah SAYA mengutus kamu Muhammad kecuali dalam rangka sebagai rahmat, maka doa ini mengajarkan kepada kita “Adkhilni masukanlah aku Tuhan, “Birahmatika” melalui Nabi Muhammad-Mu itu, rasul-Mu itu, fii ibadihkah sholihin, ke dalam hamba-hambamu yang sholeh, apa namanya hamba-hamba yang sholeh?, di sana dikepung, didatangi oleh amal-amal sholeh, baik yang dilakukan di dunia ataupun yang kita kirimkan kepada mereka semuanya tadi, yang menjelma tadi menjadi kebaikan-kebaikan “wa adkhilni birahmatika fi ibahdika syalihin”.

Ini yang kita minta bapak ibu jemaah sekalian yang sangat berbahagia, untuk mereka yang ada disana. Nah, karena  mereka tidak membutuhkan apa-apa lagi disana dan tidak bisa ber-ikhtiar, kita yang melanjutkannya, kita anak-anaknya harus melakukannya. Maka anak-anak yang kehilangan orang tuanya, maka anak itu menjadi aset utama sebetulnya. Dimana letak asetnya?, bukan pada kekayaan anaknya, bukan bahwa anaknya jadi pejabat, bukan bahwa anaknya jadi Direksi di sebuah BUMN, Bukan!!, tetapi eling-nya, sadarnya anaknya untuk selalu mengingat orang tuanya terutama setiap selesai shalat lima waktu.

Doa-doa di dalam al-Qur’an banyak melibatkan orang tua, tadi “Rabbi auwsigni an asykura ni’mataka llatiy an’amta alayyah wa ala walidayya” itu orang tua, itu dua kali muncul dalam Al-Qur’an, satu dalam Surat An-Naml ayat 19, satunya di dalam surat Al-Ahqaf  surat-46 ayat 15, ada lagi Rabbigfirli waliwalidayya warhamnuma kama rabbayani shaghira ini dalam surah Al-Isra, ada lagi Rabbigfirli waliwalidayya walimandhakhala baitiya mukminan walil mukminina mukminat, ini berada dalam surah Nuh ayat terakhir. Selalu melibatkan orang tua, untuk apa bapak ibu jemaah sekalian yang berbahagia?, Allah ingin menjelaskan bahwa amalan utama orang tua sebetulnya adalah ketika punya anak. Itulah sebabnya Nabi mengatakan orang yang belum menikah setengah agamanya belum terwujud. Orang yang belum menikah setengah dari agamanya belum terwujud. Apa sebabnya?, karena melalui anak-anaklah kontinuitas amal perbuatan kita berkelanjutan nanti di sana, merekalah yang meng-arrange (memprakarsai), kita tahu anaknyalah Ibu Konil Binti Kona yang meng-arrange pertemuan ini bapak ibu jemaah sekalian yang sangat berbahagia, karena kalau bukan karena anak-anak almarhumah kita tidak kumpul di tempat ini, kalau almarhumah tidak meninggalkan apa-apa mungkin tidak ada yang ngurusin. Inilah manfaatnya semuanya.

Maka oleh sebab itulah orang-orang yang pindah ke alam barzah sana dan tidak melakukan amal baik di dunia untuk terjelma di sana atau tidak ada orang yang ditinggalkannya untuk mengirimkan ke sana jelmaan-jelmaan kitab suci tadi, maka mereka berkata di dalam Al-Qur’an “Walawthora idzilmujrimuna naqhisurusir indarabbihim rabbana ab’esarna wasami’na fa’jirna na’mal shalehan innamufinun, seadainya kalian menyaksikan orang-orang yang baru pindah ke alam barzah-nya dan tidak ada amal-amal baiknya muncul di sana, tidak ada tajjasumul amalnya, tidak ada bacaan kitab suci di dunia yang terjelma di alam sana, maka kemudian dia berkata “Rabbana wahai Tuhan kami, absharna kami telah melihat, wasami’na kami telah mendengar, bahwa ternyata yang ada hanya yang buruk-buruk saja maka farji’na Ya Allah kembalikan kami ke dunia”, untuk apa?, na’mal shalihan, untuk beramal sholeh. Perhatikan, apa itu amal sholeh?, sederhana, amal sholeh adalah seluruh amal-amal yang sejalan dan berdasar daripada kitab suci, apa sebabnya?, semua yang berasal dari kitab suci, dia akan menjelma menjadi kebaikan-kebaikan yang disebut tadi dengan amal sholeh.

Maka Bapak ibu Jemaah sekalian yang berbahagia, semua yang kita baca tadi dari kitab suci, termasuk tahlil, tahlil itu perintah dalam kitab suci, dalam Al-Qur’an dikatakan fa’lam annahu Laa ilaha illallah atau afdahlul dzikir kan begitu, fa’lam annahu Laa ilaha illallah dalam surat Muhammad itu bisa kita temukan kalimat ini, tepatnya dalam ayat 19, jadi itu adalah perintah dalam Qur’an. Dan hakikat seluruh alam semesta adalah Laa ilaha illallah…, maka ketika ini semua terucap, maka dia menjadi jelmaan di alam barzah sana, sebagaimana ketika Allah mengatakan “Innama amruhu idza aradah syaia… apa kata Tuhan? Laa ilaha Illallah, maka kemudian terjelmalah segala-galanya, jadi tonggak, core (kord) inti daripada seluruh alam semesta adalah Laa ilaha illallah. Itulah sebabnya nabi mengatakan “Man kana Laa ilaha illallah fi akhiri kalamihi dhokhalal jannah”, siapa yang ada sifat, hakikat Laa Ilaha Illallah di dalam dirinya pada saat akhir hayatnya fi akhiri kalamihi, akhir kalamnya akhir hayatnya, kata nabi “Dhokhalal Jannah, dhokhalal jannah, dalam kaidah bahasa Arab, dhokhalal itu aslinya adalah fi’il madhy, fi’il madhy  itu artinya lampau, tapi kenapa digunakan untuk nanti?. Dhokhalal itu harusnya bentuk lampau, setelah lalu, harusnya disitu yadhekhulul jannah ataukah sayedhekhulul jannah. Harusnya bunyinya “Man kana Laa ilaha illallah fi akhiri kalamihi sayedhekhulul jannah” harusnya begitu bapak ibu sekalian, tapi bunyi ayatnya tidak menggunakan fi’il mudhore’, tapi menggunakan fi’il madhy, apa artinya dalam kaidah bahasa Arab?, dalam kaidah bahasa Arab mengatakan, apabila fi’il madhy digunakan untuk akan datang, menunjukkan akan datang itu pasti, tidak boleh tidak. Maka ketika Rasulullah mengatakan “Man kana Laa ilaha illallah fi akhiri kalamih dhokhalal jannah” siapa di akhir kalamnya ada kalimat Laa Ilaha Ilallah maka dia pasti akan masuk sorga.

Nah, bapak ibu jemaah sekalian yang berbahagia, wujud daripada kalimat Laa Ilaha Ilallah itu terjelma bagi kita yang hidup dalam bentuk kitab suci Al-Qur’an, sehingga ketika kita baca itu, juga akan menjelma lagi di sana menjadi amalan-amalan yang baik.

Bapak ibu jemaah sekalian yang sangat berbahagia, mudah-mudahan pertemuan kita di tempat ini benar-benar bisa memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi almarhumah ibunda kita, almarhumah Ibu Konil Binti Kona sehingga semua dosa-dosanya ter-ampunkan dan semua kebaikan-kebaikan menjelma menjadi kebaikan yang sesungguhnya di sana. Walafuminkum terimakasih banyak. Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Check Also

Ketahuilah, Hasan Al Banna Mengajarkan Ini Saudara

Hasan Al-Banna punya sebuah majelis taklim. Majelis ilmu itu dilaksanakan di sebuah masjid pada malam …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *