Breaking News

Perseteruan Qatar-Saudi dan Kutukan “Assad Must Go”


Oleh: Dina Sulaiman

Baru-baru ini dunia digemparkan oleh pemutusan hubungan diplomatik Arab Saudi terhadap Qatar. Namun sebenarnya, tanda-tanda dibuangnya Qatar dari persekutuan Teluk sudah muncul cukup lama. Indikasinya adalah sikap Qatar yang mulai berbaik-baik dengan Iran. Pada bulan April 2016, mantan perdana menteri sekaligus mantan menteri luar negeri Qatar, Syeikh Hamad bin Jassim al-Thani memuji-muji Iran dalam pidatonya. Dia juga menyarankan agar ‘negara-negara GCC sebaiknya menjalin kerjasama dengan Iran dan menyudahi kebijakan pasif mereka selama ini dalam berbagai krisis di Timteng, termasuk Suriah.’

Pihak Iran sendiri, sebelum Saudi secara resmi memutuskan hubungan dengan Qatar, sudah bicara soal ketegangan Qatar-Saudi. Jubir Kemlu Iran, Behram Ghasemi, mengatakan sebabnya adalah “keberadaan pasukan asing”, yang merupakan faktor yang mengacaukan keamanan, persatuan dan saling pengertian antarnegara regional.

Yang dimaksud Ghasemi tentu saja, kehadiran para ‘mujahidin’ dari berbagai faksi di Suriah. Masing-masing faksi punya ‘boss’ masing-masing, dan kini para boss sedang berseteru untuk memperebutkan kekuasaan terbesar. Qatar, seperti sudah banyak diketahui, mendukung faksi Ikhwanul Muslimin (faksi ini punya beberapa ‘pasukan’ di lapangan, antara lain FSA dan Jaish al Islam). Namun rupanya setahun terakhir, Qatar juga mendanai Al Nusra (yang sudah dinyatakan sebagai organisasi teroris internasional). Awalnya Al Nusra dibentuk oleh petempur Al Qaida Irak, yang artinya, tidak seideologis dengan Ikhwanul Muslimin. Namun demi mendapatkan kucuran uang dari Qatar, setahun terakhir Al Nusra menyatakan berlepas diri dari Al Qaida.

Dinamika pertempuran di Suriah menjadi faktor penting dalam perseteruan antar para sponsor perang. Al Nusra (dan afiliasinya, mereka memiliki beberapa nama) rupanya sedang naik daun, sementara ISIS sedang terjepit. Selama ini AS, Saudi, Jordan, dan koalisinya mengaku memerangi ISIS, padahal sebenarnya mereka sedang memanfaatkan ISIS untuk menggulingkan Assad. Di antara buktinya, beberapa kali pasukan Suriah hampir mengalahkan ISIS, namun dihalangi pesawat tempur AS yang membombardir tentara Suriah. Lalu dalam email Hillary Clinton yang bocor, dia menyebut bahwa ISIS didanai oleh ‘government’ (pemerintah) Saudi (dan Qatar). Lalu, dalam berbagai kesempatan, tentara AS (yang mengaku sedang memerangi ISIS) justru memberikan jalan keluar bagi petempur ISIS di Suriah yang sudah terjepit.

Masih dari Jubir Kemlu Iran, Behram Ghasemi, “Arab Islamic American Summit” (KTT Riyadh) yang dihadiri Presiden AS dan pemimpin berbagai negara Muslim rupanya menjegal Qatar. “Sejauh pantauan kami melalui komunikasi-komunikasi dengan kalangan diplomat, banyak negara tidak mengetahui bahwa konferensi ini akan berujung pada deklarasi, belum lagi beberapa negara yang menentang kandungan deklarasi ini,” kata Ghasemi.

Cerita yang dituturkan pemimpin redaksi Ray al-Youm Abdel Bari Atwan dalam kolom editorialnya semakin memperjelas sikap Qatar terhadap Iran. Menurutnya, Menteri Luar Negeri Qatar Syeikh Mohamed bin Abdulrahman al-Thani telah melakukan kunjungan mendadak ke Baghdad beberapa hari menjelang Konferensi Tingkat Tinggi Riyadh, dan di situ dia mengadakan pertemuan dengan jenderal ternama Iran Qassem Soleimani. Soleimani disebut-sebut punya andil besar dalam membantu tentara Suriah mengusir para teroris dari negeri mereka.

Atwan juga menyebutkan bahwa ada perubahan diksi di berbagai media Qatar dalam menyebut pasukan pemerintah Suriah. Situs Aljazeera, misalnya, mulai menyebutnya “Pasukan Arab Suriah (SAA),” bukan “tentara rezim”. Aljazeera juga menayangkan pidato Sekjen Hizbullah yang sarat kecaman pedas terhadap KTT Arab-Amerika di Riyadh. Tak heran bila Saudi kini menutup kantor Aljazeera di Riyadh.

Lalu, pertanyaan terakhir, mengapa Qatar mendadak berbaik-baik dengan Iran? Pertama, mungkin karena pemimpin Qatar sudah kembali ke akal sehat (apalagi, mereka tetap mendukung perjuangan Hamas/Palestina). Tapi ini kurang pas dengan fakta bahwa mereka mendanai Al Nusra yang 11-12 dengan Al Qaida itu. Kedua, mungkin karena tidak ada pilihan lain, mereka sudah dijegal Saudi dkk (dan AS, yang sudah berencana memindahkan pangkalan militernya dari Qatar serta akan memberlakukan sanksi ekonomi). Mau tak mau, Qatar butuh ‘teman’. Pilihan satu-satunya adalah kubu Iran (+Rusia, China, Hizbullah, Suriah, Palestina). Namun tentu tak semudah itu Iran mau menerima Qatar, apalagi mereka masih mendanai afiliasi Al Qaida. Ketiga, jawaban idiosinkretik: begitulah para pemimpin Arab, tak pernah mampu berpikir rasional, tak pernah mampu melihat mana yang musuh, mana yang seharusnya dirangkul. Mereka dengan mudahnya diadu domba; detik ini berangkulan, besok saling jegal.

Ada prediksi bahwa rezim monarkhi Qatar akan dihabisi. Bila ini terjadi, kutukan “Assad must go” makan tumbal lagi. Sebagaimana diketahui, para pemimpin negara yang dulu secara serempak menyatakan ‘Assad harus pergi, kini sudah banyak yang tumbang atau lengser, antara lain Morsi, Sarkozy, Obama, Blair. Sementara, Assad yang sejak 6 tahun lalu mereka ganggu habis-habisan, saat ini mungkin sedang menonton TV, menyaksikan kekisruhan musuh-musuhnya, sambil makan popcorn.

Sumber: LiputanIslam.com

*direktur Indonesia Center for Middle East Studies

Check Also

Perang Mulut, Turki VS Vatikan

ANKARA, Pada hari Jumat (24/06), Paus Francis mengecam pembantaian Armenia se-abad yang lalu di bawah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *