Breaking News

Tujuh Cara Walisongo Dakwahkan Islam di Nusantara

Tujuha-Cara-Walisongo-Dakwahkan-Islam-di-NusantaraInilah Islam- Masyarakat muslim di Indonesia khususnya pulau Jawa tentu mengenal siapa itu Walisongo. Mereka adalah 9 orang yang menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa sehingga bisa diterima dengan baik oleh masyarakat. Meski ada sebagian kalangan berpendapat Walisongo merupakan lembaga dakwah ulama dahulu dalam menyebarkan ajaran Islam di bumi Nusanatara.

Sebuah misi penyebaran ajaran agama menjadi diterima oleh masyarakat manakala banyak sisi kesamaan antara ajaran yang lama dengan ajaran baru yang ditawarkan. Titik kesamaan ditambah keunggulan ajaran baru yang ditawarkan menjadi alasan masyarakat berganti agama.

Masyarakat yang saat itu sudah menganut kepercayaan dan agama lain, tentu tidak bisa dengan mudah diajak menganut agama Islam. Karena itulah, para wali ini memiliki cara tersendiri untuk mengajak masyarakat kepada Islam.

  1. Pendekatan kebatinan.

Sebagaimana diketahui kepercayaan dan agama-agama di bumi Nusantara sebelum kedatangan Islam bercorak kebatinan atau mistisisme. Ajaran kebatinan ini didominasi seruan-seruan moral. Agama yang bertumpu pada ajaran kebatinan ini senantiasa mengandung unsur-unsur yang tersurat dan yang tersirat. Unsur yang tersurat adalah apa yang secara jelas dinyatakan sebagai pola hidup yang harus dijalani, sedangkan yang tersirat adalah pemahaman yang komprehensif atas ajaran tersebut.

Walisongo yang memang menerima ajaran tasawuf dari pendahulunya melihat tasawuf sebagai media yang bisa mendekatkan masyarakat yang beragama bercirikan kebatinan dengan tasawuf Islam. Ajaran tasawuf Islam merupakan ajaran olah batin sarat dengan seruan moral.

Bagi Walisongo tidak kesulitan mengenalkan Islam melalui tasawuf karena masyarakat saat itu dikenalkan kesadaran kesempurnaan manusia ketika mampu mencerap sifat-sifat Tuhan.

  1. Pengenalan Jejiwa Suci

Bagi agama-agama seperti Hindu dan Buda sarat dengan pengagungaan tokoh Suci. Sosok Rama dan Krisna diterima sebagai tokoh suci menurut ajaran Hindu. Demikian dalam ajaran Budha yang mempercayai tokoh Sidharta Gautama sebagai tokoh suci.

Dalam Islam, Nabi  Muhammad SAW dan wali-wali diperkenalkan sebagai tokoh suci. Tokoh suci ini dipahami betul oleh Walisongo sebagai sarana yang dianggap tidak memunculkan benturan dalam mengenalkan ajaran Islam. Sebagaimana contoh adalah keyakinan tawasul kepada jejiwa suci dalam munajat mayoritas umat Islam Indonesia saat ini menjadi bukti bahwa Walisongo mengajarkan masyarakat untuk mengenal jejiwa suci

  1. Wayang Sebagai Media Dakwah

Di Jawa sejak dulu sebenarnya sudah mengenal dengan cerita pewayangan. Pagelaran wayang ini diselenggarakan pada waktu-waktu tertentu seperti upaca kelahiran, pernikahan, atau upacara tolak bala. Karena itulah biasanya ada kegiatan menambahkan sesaji saat menjalankan prosesi wayangan

Setelah agama Hindhu, Budha dan Islam masuk ke Jawa, wayang menjadi salah satu alat untuk menyebarkan agama. Walisongo juga menggunakan wayang sebagai media dakwah. Karena itulah kemudian muncul nama lakon dan cerita yang disesuaikan dengan agama Islam. Seperti Layang Kalimosodo yang mengajarkan kalimat syahadat, atau para tokoh Punakawan yang merupakan penasihan Pandawa dan membawa misi agama Islam. Jika dibandingkan dengan cerita Pandawa dari India, maka tidak akan ditemukan lakon-lakon Punakawan.

  1. Seni Gamelan dan Tembang

Seni musik gamelan dan lagu tembang yang biasanya memang lekat dengan kepercayaan Jawa zaman dulu juga menjadi salah satu media untuk menyebarkan agama Islam. Hanya saja, lagu tembang yang diciptakan tentu berbeda dengan tembang lain karena disisipi dengan ajaran Islam.

Tembang Tombo Ati yang mengajari ajaran Islam misalnya, sebenarnya adalah ciptaan Sunan Bonang. Sedangkan lagu lir ilir merupakan ciptaan Sunan Kalijaga. Kedua tembang ini bertujuan untuk mengajak masyarakat agar lebih bertakwa. Kemudian ada juga tembang Sinom dan Kinanthi yang merupakan ciptaan Sunan Muria yang dibuat dengan tujuan yang sama.

  1. Perayaan dan Adat yang Diarahkan Agar Lebih Islami

Sunan Kalijaga paham betul bahwa masyarakat Jawa menyukai perayaan apalagi jika diiringi dengan musik gamelan. Karena itulah para wali kemudian menyelenggarakan Sekaten dan Grebeg Maulud yang diselenggarakan pada hari lahir Nabi Muhammad SAW.

Dalam perayaan ini, gamelan diperdengarkan untuk mengundang penduduk. Kemudian diikuti dengan dakwah dan pemberian sedekah Raja berupa gunungan. Dengan cara ini, maka masyarakat kemudian semakin tertarik untuk mempelajari Islam.

Selain itu, tradisi adat Jawa yang mengirim sesaji dan selamatan kemudian diubah dan diarahkan dengan cara yang lebih Islami. Selamatan dilakukan tapi niat dan doanya bukan kepada dewa, tapi kepada Allah. Dan makanan tidak digunakan sebagai sesaji untuk dewa, tapi dibagikan sebagai sedekah kepada penduduk setempat.

  1. Pendidikan

Selain cara-cara akulturasi budaya, Islam juga disebarkan melalui pendidikan pondok pesantren. Pesantren ini mendidik para santri dari berbagai daerah agar lebih memahami dan mampu mengamalkan tentang Islam.

Setelah para santri tamat pendidikan pesantren, mereka kemudian bisa mendirikan pesantren baru di daerah asalnya. Dengan demikian agama Islam bisa berkembang dan menyebar dengan lebih cepat.

  1. Banyak Membantu Masyarakat

Salah satu langkah terbaik untuk membuat seseorang tertarik untuk mempelajari agama adalah dengan memberi contoh lewat akhlak. Nah, para wali ini mencontohkan sikap yang lembut, dan suka membantu sehingga mereka banyak disukai oleh masyarakat.

Sunan Giri misalnya terkenal di kalangan kasta rendah yang selalu ditindas oleh mereka dari kasta yang lebih tinggi. Ia menjelaskan bahwa dalam Islam semua kedudukan manusia adalah sama. Para wali juga membantu masyarakat dalam hal pengobatan, membantu membuat aliran air untuk sawah masyarakat, dan masih banyak lagi. Dengan menunjukkan sikap seperti inilah banyak orang yang kemudian tertarik untuk mendalami Islam.

Pada masa itu, masyarakat Jawa memang masih lekat dengan kepercayaan nenek moyang. Islam yang baru masuk Nusantara akan sulit berkembang jika disebarkan dengan cara yang agresif atau melalui kekerasan. Maka dari itu para wali kemudian berusaha mengenalkan Islam kepada masyarakat dengan cara yang lebih bersahabat. Ternyata usaha ini juga berhasil, terbukti dengan banyaknya penganut agama Islam pada masa itu hingga sekarang.

Baca juga

1. Menyelami Islam Cinta Ibnu Arabi
2. Doa Menembus Alam Realitas Material
3. Manusia Berbakat Bahagia!

Check Also

Menyelami Islam Cinta Ibnu Arabi

Narasi terpenting dari pemikiran Ibn ‘Arabi adalah menghadirkan pesan cinta dalam memahami Islam (Haidar Bagir) …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *