Breaking News

Valentine Tidak Identik Dengan Maksiat

ValentineOleh Ahmad Sahal
PCINU Amerika Serikat

Valentine bisa dipakai untuk tujuan maksiat, dan itu haram, tapi bisa juga dipakai sebagai momen untuk ekspresikan cinta secara halal.

Inilah Islam- Valentine sebenarnya bukan perkara penting. Tapi menjadi masalah karena disikapi dengan paranoia berjamaah. Paranoia memunculkan respon lebay, misal surat edaran larangan Valentine dari dinas pendidikan dll. Pemerintah ngurusi Valentine?

Paranoia muncul dari ketakutan yang berlebihan. Akibatnya, Valentine direduksi maknanya, atau didistorsi, untuk kemudian dilarang. Bukan hanya terhadap Valentine banyak orang parno, tapi juga terhadap tahun baru, ucapan selamat natal, topi santa, selfie. Semua diributkan.
Kesannya semua dilarikan ke soal aqidah, yang dianggap terancam dari segala penjuru, tanpa mau memahami duduk perkaranya secara rileks.

Psikologi ‘serba terancam’ ini justru ironis karena pada saat yang sama, kehidupan kita, suka atau tidak, makin mengglobal dan terbuka. Valentine adalah salah satu komoditas kapitalisme global yang menyerbu kita. Dan sebagai ikon global, ia bisa saja terlepas dari sejarahnya.

Orang bisa merayakan Valentine tanpa harus tahu/peduli dengan asal mulanya. Bentuk perayaannya pun bisa bermacam-macam, terserah orangnya. Bolehkah merayakan Valentine menurut hukum Islam? Selama tak ada dalil yang melarangnya, why not? Hukumnya? Tergantung tujuannya.

Dalam hukum islam ada qaidah: “al umuru bi maqashidiha,” hukum segala sesuatu itu bergantung pada tujuannya. Valentine bisa mubah kalau yang dilakukan adalah hal-hal yang mubah. Tapi bisa juga haram kalau yang dilakukan adalah hal-hal yang haram.
Itu juga berlaku untuk hal-hal lain. Sosmed pun bisa juga haram kalau dipakai untuk penipuan, bisnis prostitusi, dan hal haram lain.

Hanya karena Valentine bisa dipake sebagai sarana zina tak lantas ia nisacaya identik dengan zina. Ingat, hukum sesuatu tergantung tujuannya! Di sinilah letak persoalan larangan Valentine. Pengertiannya direduksi/didistorsi, lalu pada ketakutan sendiri, terus main larang. Tentu saja sah saja bila ada yang menolak Valentine karena takut dosa. Tapi tak lantas Valentine niscaya dosa yang harus dilarang.

Analoginya: kamu boleh menolak naik pesawat terbang karena takut jatuh. Tapi jangan lantas melarang orang lain naik pesawat terbang. Mungkin saja pesawat terbang bisa jatuh seperti yang kamu takutkan. Tapi tak lantas ketakutanmu bisa jadi dasar aturan. Tak semua orang parno.

Analogi saya tadi mungkin kurang pas. Tapi poin saya: dalam menentukan hukum sesuatu, patokannya bukan sikap subyektif, tapi kenyataan obyektifnya. Valentine bisa dipakai untuk tujuan maksiat, dan itu haram, tapi bisa juga dipakai sebagai momen untuk ekspresikan cinta secara halal.

Editor: Faisal

Check Also

Kalau Orang Melayu Dipegang Kepalanya

Oleh : Khairun Fajri Arief Pertama, Arab Saudi dan “Aliansi negara Islam” membeli 1.400 trilyun …

2 comments

  1. Betul…..
    Valentine bisa dipakai untuk tujuan maksiat, dan itu haram, tapi bisa juga dipakai sebagai momen untuk ekspresikan cinta secara halal.

  2. Momen untuk ekspresikan cinta secara halal. Kalo anak SD, SMP atau SMA gimana bang cara mengekspresikan nya? secara halal?
    Pemerintah bukan mengurusi valentine tapi memperhatikan rakyatnya. paham?
    lihat kenyataan, kebanyakan yang dilakukan masyarakat indonesia kalo valentine itu ngapain? mungkin anda bisa menyertakan statistik tentang kegiatan apa saja yang dilakukan masyarakat untuk mengekspresikan cinta nya saat valentine? mas yakin kalo kebanyakan yang dilakukan oleh orang-orang yang merayakan valentine ini di ekspresikan secara ‘halal’? terlebih oleh anak SD, SMP atau SMA?
    Orang melarang itu pasti ada alasannya, gak asal larang.

    by the way, kenapa harus menunggu valentine kalo mau meng-ekspresikan cinta?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *